Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Bertemu Kak Jee


Awal ceritanya aku tidak sengaja melihat info di sosmed bahwa salah satu mentor penulis, Kak Jee Luvina, akan mengisi acara di Surabaya. Tentu saja aku langsung girang, karena domisili aku di Tuban jadi kota pahlawan terasa lebih dekat. Namun sayangnya acaranya jatuh di hari Sabtu. Sedangkan aku adalah golongan orang yang harus bekerja di hari itu dan kebetulan tidak bisa ambil cuti. Kandas sudah semua kegiranganku.
Aku hanya mencoba berpikir berpositif saja, kalo memang rejeki pasti bisa bertemu di lain waktu. Beberapa hari kemudian muncul iklan lagi bahwa di hari Minggunya Kak Jee ada acara di Malang. Kali ini aku sedikit mempunyai pertimbangan, karena jarak kota Malang lebih jauh hampir 5 jam perjalanan. Sedihnya rumah aku jauh dari tempat menunggu bus artinya aku harus merepotkan kakak iparku untuk mengantar halte maksimal jam 3 pagi (karena acaranya jam 8.30) dan pasti akan banyak timbul pertanyaan dari keluarga apalagi aku berangkatnya sendirian. Jadi baiklah aku aku mundur untuk berangkat.
Tapi Allah sepertinya iba denganku, H-1 acara Kak Jee di Malang seorang keponakanku bilang bahwa ia akan kembali ke kosan Surabaya malam itu. Langsung deh acara itu terlintas di pikiranku. Aku melobby keponakanku untuk bisa berangkat bareng dan izin menginap di kosannya. Ketika diperbolehkan aku merasa ada secercah harapan. Namun tak semudah itu, aku harus minta restu ibu dulu. Akhir-akhir ini entah kenapa keluargaku jadi semakin protektif denganku, kalau pergi jauh harus ada temannya. Ya maklum lah aku adalah wanita yang harus dijaga hehe. Sabtu di kantor terasa lama, aku menyusun kalimat yang sekiranya tidak bisa ditolak oleh ibu. Sesampainya di rumah, aku pun melakukannya. Keseriusan tekadku aku lakukan dengan cara menyelesaikan cucian bajuku yang menggunung sore itu juga jadi kewajibanku di hari Minggu telah gugur satu. And the answer is Yes!
Lagi-lagi Allah kasih bonus ke aku, saudaraku berbaik hati memberikan tambahan uang saku padaku. Tentu saja aku sangat bersyukur karena pengeluaranku bulan ini sudah cukup banyak. Malam itu perjalananku terasa menyenangkan, mungkin berbanding terbalik dengan keponakanku yang bersedih karena harus berpisah lebih cepat dari bapak ibunya karena ada kegiatan kampus di hari Minggu.
Setelah subuh aku berangkat dari daerah Dharmawangsa menuju Terminal Purabaya. Setelah mampir sarapan, aku langsung lanjut menaiki bus ke arah Malang. Pagi itu bus berjalan sedikit lebih lambat dari yang aku perkirakan, aku menggerutu karena mungkin ini bisa saja terjadi jika aku tadi makan lebih cepat. Aku mencoba menenangkan diri dan terus berdoa agar dimudahkan dalam perjalanan ini. Sampai di Malang, aku langsung pesan transportasi online. Drama pun berlanjut, abang ojeknya nyasar saat mencari lokasi acaranya. Aku pun kebingungan karena memang baru pertama kali ke sana. Jam sudah menunjukan pukul 08.30 dan kami belum sampai juga. Setelah muter ke sana ke mari akhirnya kami tiba. Setelah bertanya satpam, aku berjalan lebih cepat menuju ruangan yang dimaksud harap-harap cemas agar aku masih bisa masuk. Beruntungnya ada toleransi waktu dari panitia karena beberapa peserta masih belum hadir juga jadi pintu masuk masih terbuka lebar untukku.

Beberapa saat kemudian Kak Jee dan pemateri lainnya memasuki ruangan. Acara pun dimulai, materi berlangsung menyenangkan. Aku mendapatkan kesempatan untuk bertanya perihal kekhawatiranku dalam mempublish tulisan. Kak Jee menjawab bahwa bukankah sebelum mempublish tulisan kita sudah membacanya? Selama itu tidak mengandung unsur SARA, selama itu tidak melanggar undang-undang, selama itu tidak menjerumuskan orang lain dalam kejahatan, selama itu tidak mengumbar aib orang lain maka kita tidak perlu khawatir. Jika nanti ternyata ada kesalahan maka kita bisa memperbaikinya, jangan takut salah dalam belajar. Pesan tambahannya, tulis saja apa yang kita tahu, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar dan apa yang kita rasakan. Jangan sampai ada atau tidak adanya kita di dunia ini tidak berarti apa-apa.
Setelah acara selesai aku pun langsung pulang, berharap tidak kemalaman sampai rumah nanti. Makanan akan semakin enak jika diberi bumbu-bumbuan sama halnya dengan pengalaman, ia akan semakin berkesan bila di dalamnya ada perjuangan. Allah terima kasih atas kejutan-Mu yang indah di bulan September ini.

#Day8 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela