Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Berebut Ibu


      Masih memiliki Ibu ketika kita tumbuh dewasa adalah sebuah anugerah Allah yang sungguh luar biasa. Seperti memiliki kesempatan yang lebih lama untuk menjadi bocah yang memiliki tempat berpulang segala keluh kesah sewaktu-waktu, seperti ada malaikat yang selalu dengan sigap membantu. Terlebih lagi ketika sudah memiliki momongan, tak jarang beliau dengan senang hati membantu merawat si bayi dengan dalih tanda sanyangnya untuk cucu. Kabar baiknya lagi hal itu dilakukan secara sukarela, tanpa biaya sepeserpun. Karena berada dalam zona nyaman tersebut, tak jarang kita tak rela untuk melepaskan Ibu kita dari genggaman kita. Jika kita adalah anak tunggal hal akan baik-baik saja, namun bila kita memiliki saudara apalagi dalam kondisi memiliki momongan seperti kita maka adegan rebutan Ibu bisa saja terjadi.
      “Aku kan wanita karir, ya wajar lah kalo aku minta Ibu nemenin si dedek di rumah.”
      “Kan ini anak pertama aku jadi aku masih butuh bantuan Ibu buat belajar ini itu, lagian kalo mau minta bantuan mertua kan ya sungkan.”
      “Duh gimana ya, kalo mau sewa baby sitter kan biaya mahal udah deh biar Ibu sama aku saja.”
      Bayangkan saja kita berada dalam posisi Ibu kita, pasti galaunya luar biasa. Tak ada Ibu yang ingin pilih kasih dengan anaknya, tapi realita mengatakan bahwa beliau hanya punya satu raga yang tak bisa dibagi menjadi dua ataupun tiga. Kondisi ini bisa memicu pertikaian antar saudara, sungguh miris bila hal itu terjadi.
      Bila dipikir ulang secara lapang, bukankah Ibu kita sudah susah payah membesarkan kita sedari kecil dulu? Bukankah saat ini adalah saat bagi kita untuk membalas budi? Bukan malah menambah beban hidupnya di usia yang tak lagi muda. Seseorang mengatakan bahwa jika Ibu kita masih hidup di dunia hal itu berarti salah satu pintu surga masih tersisa untuk kita, lalu kita dibiarkan untuk memilih apakah kita akan menggunakannya dengan cara berbakti atau malah menyia-nyiakan kesempatan emas itu, buruknya lagi bisa jadi kita membuatnya tertutup rapat karena memilih untuk menyakiti.
      Jadi apakah kita masih ingin memperebutkan Ibu untuk meringankan beban hidup kita? Atau dengan bijak kita memilih memperebutkannya dalam merawatnya di usia senjanya sebagai upaya membuka salah satu pintu surga?.

#Day1 #ODOP6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela