Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Aku Tidak Baik-Baik Saja

  
Malam itu di samping tempat tidurku tergeletak sebuah buku yang baru saja dipinjam oleh salah satu temanku. Buku berwarna hijau tosca karya Utami Pratiwi. Sebenarnya aku sedang tidak galau, aku pun sudah pernah membaca buku itu. Tapi entah kenapa jari-jari ini merengek untuk membukanya lagi. Baiklah akhirnya aku menurutinya. Aku membukanya acak, dari tengah ke belakang lalu ke depan kemudian berujung ke tengah lagi, semauku sendiri. Sebuah quote dengan font yang cukup besar menarik perhatianku.
“Tidak Semua Orang Terlahir Peka, Maka Bicara adalah Solusinya”
       Berbicara tentang peka, apa sih peka itu? Menurut KBBI peka memiliki arti 1 mudah merasa; mudah terangsang; 2 mudah bergerak (tentang neraca peralatan mekanis); 3 tidak lalai; 4 mudah menerima atau meneruskan pengaruh (cuaca dan sebagainya). Menurut asumsi saya, quote di atas kata peka lebih cocok diartikan sebagai mudah merasa. Tidak semua orang mudah merasa (merasa jika kita lagi jengkel sama dia, merasa jika kita sedang sedih, merasa jika kita butuh bantuan, merasa jika kita menunggu sebuah kepastian dll). Bagaimana perasaan kita jika berada di posisi demikian? Sedih iya pasti sedih. Tapi jika kita membuka pikiran dengan lapang, dalam kondisi ini yang salah siapa sih? Kita sudah berbicara langsung belum tentang apa yang kita rasakan terhadap orang yang kita harapkan pengertiannya. Jika belum, mungkin cuplikan di bawah ini memberikan titik terang.
“Ingat temanmu bukan Tuhan yang Maha Tahu segalanya. Tanpa kamu cerita mereka tidak akan paham dengan persoalan yang menimpamu. Jadi jangan baper karena merasa teman-temanmu tidak paham dengan kondisimu.”
Ya kita perlu bicara, kita perlu brcerita tentang apa yang kita alami. Agar teman-teman kita pun mmahami. Coba kita ingat lagi, saat teman kita menanyakan kabar kita, biasanya secara reflek kita akan menjawab ‘baik’. Ketika ditanya lebih lanjut,
“Kamu kenapa?”
“Nggak papa aku baik-baik saja,” begitulah jawabannya. Padahal tidak jarang sebenarnya kita sedang tidak baik-baik saja. Tapi karena kita menjawab demikian teman kita bisa saja merasa bahwa kita memang baik-baik saja. So, come on guys yuk ubah sikap kita agar lebih terbuka dengan teman. Agar tidak terjadi salah paham di antara kita. Dengan catatan orang tersebut memang sudah dekat dengan kita ya dan tentunya orang tersebut bisa dipercaya untuk menjaga rahasia kita.
“Hapus kata aku baik-aik saja”, ada yang bilang ucapan aku baik-baik saja sebenarnya bermakna kebalikan dari ucapan tersebut. Jika memang kamu merasa sedang tidak baik maka ungkapkan keresahan atau masalah yang sedang dihadapi. Misalnya kepada teman, yang tentunya dengan senang hati membantu.”
          Sebenarnya, masih banyak pembahasan lain dari buku itu. Jika kalian ingin tahu lebih jauh tentang isinya, silakan dicari saja buku dengan judul dengan judul yang cukup menarik yaitu Jangan Baper Ramuan Jitu Anti Galau. Semoga bermanfaat.


#Day10 #ODOPbatch6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela