Review Buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah

Gambar
  Dalam RCO level ketiga ini, saya memilih membaca buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah karya Geulbaewoo. Ini adalah kali pertama saya baca buku esai terjemahan Korea, rasanya agak aneh awalnya tetapi lama-lama bisa menikmati. Jujur saja saya tertarik untuk membaca bukunya karena judulnya, berharap menemukan vitamin tambahan dalam proses mendalami petuah 'learn to rest not to quit'. Selain itu saya juga menyukai desain sampulnya yang simpel, tetapi tetap berkesan apalagi ada gambar bunga mataharinya, hehe. Menurut saya isi buku ini cukup menarik tetapi tidak keseluruhan. Beberapa tulisan membuat saya menggut-manggut tak lupa ditempeli sticky notes biar gampang kalau nyari lagi, beberapa lainnya biasa saja (bukan sebab kurang berkesan, tetapi mungkin karena sudah pernah membaca tema itu sebelumnya). Panjang tulisan esainya pun beragam. Ada yang sampai beberapa halaman. Ada yang cuma satu kalimat. Ada yang berisi pengalaman pribadi, ada yang berisi nasihat-nasihat, dll.

Amplop



Siang tadi aku menyempatkan diri merapikan laci meja kantor yang berantakan. Kupunguti barang-barang yang seharusnya tak tinggal di dalamnya. Beberapa aku kembalikan ke rumahnya masing-masing, yang terakhir aku lemparkan ke dalam tempat sampah yang sedari tadi tutupnya terbuka lebar seperti kelaparan saja. Ruang kecil berbentuk persegi itu kini lebih longgar, aku pun jadi lega.
“Kenapa tidak dari kemarin saja dibereskan?” aku menggerutu malu.
Sesaat mataku menangkap hal menarik yang terselip di antara map merah, hatiku berteriak menyuruhku untuk segera mengambilnya. Aku hanya pasrah mengiyakan. Aku mengubah posisi dudukku, membuat kedua tanganku lebih nyaman untuk membuka lipatan kecil itu. Benar, itu adalah sesuatu yang istimewa, pantas saja aku begitu tergoda.
Waktu itu aku sedang asyik memperagakan cara membuat lipatan plastik bekas yang rapi bersama adik-adik magang, sebuah ilmu yang aku dapatkan dari teman sekamar kosku dulu. Tiba-tiba pintu ruanganku berderit, kami menoleh, dalam hati aku menerka sepertinya pekerjaan baru menghampiri.
“Ini amplop buat kamu saya taruh meja ya,” suara teman sekantorku terdengar nyaring.
Adik-adik berseragam SMA itu saling bersitatap, lalu bergantian menduga-duga apa isi dari amplop itu. Aku tertawa geli melihat ekspresi dari mereka, lalu mengajaknya untuk segera menyelesaikan lipatan-lipatan plastik warna-warni itu. Setelah kembali ke meja kerjaku aku menimang-nimang amplop putih kecil dengan corak warna merah biru di pinggirnya. Sejenak aku menerawangnya dan pada akhirnya karena penasaran aku membukanya.
Kebahagiaan itu siang tadi masih tersisa, sama seperti saat pertama aku membukanya. Sebuah kertas putih dengan goresan tinta biru, yaa itu adalah tulisan tangan, sesuatu yang membuatnya semakin berharga. Inti dari rangkaian kalimat dalam kertas itu adalah ucapan terima kasih atas kontribusi kami dalam menyelesaikan pekerjaan khusus yang sangat menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Tulisan itu ditulis langsung oleh pemilik perusahaan di mana aku saat ini bekerja. Penggunaan Bahasa Indonesia di dalamnya membuatnya semakin menarik, bagaimana tidak, bos kami adalah seorang bule artinya beliau pasti membutuhkan upaya yang lebih dalam merangkainya. Dalam sekejap isi amplop itu mampu membuatku memiliki kepercayaan diri yang lebih, agar aku membuang jauh-jauh pemikiran bahwa aku hanyalah remehan rengginang yang tidak berharga. Setiap kita adalah istimewa, setiap kita memiliki kontribusi yang penting dalam peran kita masing-masing. Tentunya dengan syarat kita harus terus belajar dan mengasah diri agar kita tidak jalan di tempat. Sesederhana itu ya suatu hal yang mampu membuatku menemukan kembali motivasi yang sempat bersembunyi.

Hal lucu pun terngiang dalam benakku ketika aku menutup kembali lipatan kertas itu. Saat aku makan siang di hari penerimaan amplop, teman-temanku bercerita bahwa banyak dari mereka yang mengira bahwa isi amplop itu adalah uang bonus. Bahkan membuat seseorang sangat bersemangat karena dalam waktu dekat ia akan pulang kampung. Canda tawa mereka membuatku semakin bahagia, sebuah keluarga baru yang dipertemukan untuk seorang gadis berusia dua puluh dua, yang dengan terbata-bata mencoba beradaptasi mencecap pahit asam manis dunia kerja.
#DAFTARODOP6 #OneDayOnePost

Komentar

Popular

Asmara Sri Huning Mustika Tuban

Review Novel Antara Cinta dan Ridha Ummi

Ulasan Buku Dokter yang Dirindukan

Belajar Prosa Liris bersama Uncle Ik

Tentang Rara, Tokoh Utama dalam Novel Rumah Tanpa Jendela